Categories : Atap baja ringan

 

Konstruksi baja ringan bangunan yang dibuat dari baja ringan umumnya memiliki daya tahan dan kekuatan yang cukup besar. Biasanya dalam membuat desain yang menggunakan baja mengacu pada American Institute of Steel Construction (AISC) sebagai filosofi pembuatannya dan mendasarkan pada probabilitas ambang batas (limited sates). Desain konstruksi harus mampu menahan kelebihan beban bila terjadi perubahan fungsi struktur yang disebabkan oleh penyederhanaan yang berlebihan dalam analisis strukturnya maupun variasi dalam prosedur konstruksi.

Bagi para insinyur sipil, konstruksi baja yang dirancang harus bisa memberi jaminan keamanan atas kemungkinan kelebihan beban yang ditopang (overload) sehingga bisa membahayakan bangunan dalam jangka panjang. Selain itu, juga perlu diperhitungkan kemungkinan daya tahan atau kekuatan yang ternyata lebih rendah daripada perhitungan di atas kertas (understrenght). Secara umum, persoalan-persoalan ‘salah hitung’ ini terjadi pada batang, penyambung atau sistem konstruksi itu sendiri.

Agar tidak terjadi kesalahan dalam perhitungan konstruksi baja, seorang ahli bangunan atau mereka yang sedang mendirikan rumah dan gedung harus menghitung volume material untuk strukturnya terlebih dahulu, khususnya komponen-komponen pokok yang membentuknya seperti kolom, balok, gording, pelat baha, trekstang, ikatan angina (bracing), jarum keras (turn buckle), baut, talang datar dan rangka besi siku. Sedangkan komponen lain di luar yang pokok adalah tie beam/sloof dan pelat lantai beton bertulang.

Untuk kolom biasanya menggunakan material baja Wide Flange (WF). Ini merupakan salah satu dari profil baja struktural yang paling banyak digunakan dalam setiap konstruksi-konstruksi baja. Sebagian penggunanya terkadang bingung karena profil jenis ini memiliki variasi beberapa nama, misalnya sering disebut profil H, HWF, H-BEAM, IWF atau I. Beberapa tempat malah menyebutnya dengan istilah WH, SH dan MH. Sama dengan kolom, balok juga menggunakan baja WF. Sedangkan Gording cenderung menggunakan materi baja jenis CNP atau biasa disebut dengan istilah balok purlin, kanal C, C-Channel, profil C. Selain Gording, baja CNP juga dipakai untuk balok dudukan penutup atap, rangka komponen arsitektural, dan untuk memegang penutup dinding seperti metal sheet.

Komponen-komponen pokok di atas lalu dihitung volumenya agar sesuai dengan gambar konstruksi baja yang telah direncanakan, agar tidak terjadi kesalahan dan kegagalan berupa tekukan, fatig, retakan dan geseran, defleksi, vibrasi, deformasi permanent dan rekahan. Oleh karena itulah beban maupun resistensi terhadap beban merupakan variable yang harus diperhitungkan. Pada kenyataannya, agak sulit untuk melakukan analisis secara komprehensif terhadap hal-hal tidak pasti yang bisa mempengaruhi pencapaian keadaan batas tersebut. Jadi perhitungan-perhitungan kasar bisa dijadikan acuan umum untuk mencegah kegagalan konstruksi.

Sebagai material bangunan, keunggulan baja terletak dari segi bentuk maupun strukturnya yang kokoh. Kedua nilai ini membantu para ahli sipil untuk memperkirakan lebih matang lagi dalam membangun konstruksi baja dengan tingkat presisi dan akurasi yang tinggi. Apalagi baja juga memiliki duktilitas yang tinggi, dalam artian meski tarikan dan tegangannya tinggi tidak membuat material langsung hancur atau putus. Bandingkan dengan kayu. Kelebihan inilah yang bisa mencegah bangunan roboh secara tiba-tiba. Ini merupakan salah satu aspek keselamatan (safety) yang dimiliki baja dibanding material lainnya. Jika pun terjadi gempa bumi yang dahsyat seperti di Jogjakarta, konstruksi dari baja cenderung tetap stabil dan tidak jatuh secara simultan. Tidak heran, untuk daerah-daerah yang rawan gempa, penggunaan material baja sebagai bahan bangunan rumah sangat direkomendasikan.

Share dan like artikelnya dapat kan promo menarik dengan hastag #petratruss

Facebook Comments