Categories : Atap baja ringan

 

Bagi mereka yang tinggal di daerah rawan gempa, memiliki rumah yang dikonstruksi dengan atap baja ringan adalah solusi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan saat bencana alam itu terjadi. Sifatnya yang kokoh dibanding atap kayu biasa membuat masyarakat Jepang, yang negaranya sering terjadi bencana alam, mayoritas menggunakan atap jenis ini untuk membangun rumahnya. Di Indonesia belum terlalu populer rumah yang menggunakan atap baja dan mayoritas masih menggunakan kayu.

Mengapa atap baja ringan bisa dijadikan alternatifas dalam membangun rumah? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, apapun yang terbuat dari baja otomatis tidak akan dimakan rayap. Bandingkan dengan atap kayu yang lama-kelamaan akan keropos digerogoti serangga pemakan kayu ini atau tetesan air hujan. Tidak jadi soal bila kayu yang digunakan adalah kayu dengan kualitas terbaik seperti kayu jati. Namun biasanya kualitas kayu yang banyak dipakai oleh para pengembang kualitasnya di bawah tingkat tiga sehingga sangat sensitif terhadap rayap dan air hujan.

Selain itu, menggunakan atap baja ringan jauh lebih efisien dibanding atap kayu biasa karena lebih siap pakai. Kayu harus dipotong dan disambung terlebih dahulu untuk menjadi sebuah kerangka. Sedangkan dengan atap baja yang sudah terbentuk kerangka, pemasangannya jauh lebih hemat dibanding kayu. Sebagai perbandingan, untuk membangun rumah bertipe 36, hanya membutuhkan waktu satu minggu bila menggunakan material jenis ini.

Atap baja ringan juga mampu menghemat pengeluaraan, khususnya yang bersifat jangka panjang. Misalnya dalam jangka 10 tahun, kayu lama kelamaan akan lapuk dimakan usia. Sedangkan baja tidak akan dipengaruhi oleh faktur udara seperti panas dan dingin serta rayap. Jadi, bagi yang berpikir jangka panjang, perawatan rumah yang kerangka atapnya dari baja jauh lebih hemat dibanding kayu.

Kelebihan lain dari atap baja ringan adalah kemudahannya dalam menyesuaikan kondisi lingkungan. Misalnya rumah berada di daerah pantai, tentu baja akan dilapisi bahan tertentu yang disesuaikan dengan kontur tanah. Ini tidak dimiliki oleh bahan kayu sehingga mudah bagi air atau angin untuk mempengaruhi daya tahan atap kayu. Apalagi jika cuaca ekstrim seperti dari hujan ke panas, atau sebaliknya yang menyebabkan kayu mudah lapuk.

Di Jepang, sebagai negara yang telah hampir tidak lagi menggunakan kayu sebagai bahan kerangka atap, masyarakatnya telah beradaptasi dengan kondisi geologi negeri Sakura tersebut yang rawan gempa. Daripada mempertaruhkan jiwa dengan membangun rumah beratap kayu, mereka memilih menggunakan atap baja ringan sebagai gantinya. Jadi, meski gempa bumi mengguncang, masyarakat tetap merasa aman dengan konstruksi rumah yang telah mereka bangun.

Indonesia sendiri merupakan negara yang selain rawan gempa juga rawan dengan tsunami dan angin topan, meski yang terakhir ini tidaklah separah di Amerika. Angin kencang yang memporakporandakan beberapa daerah seperti di Sulawesi menunjukkan bahwa ternyata konstruksi yang kokoh bukan saja berbicara mengenai efisiensi belaka, namun juga berbicara tentang keselamatan manusia. Rumah yang

Share dan like artikelnya dapat kan promo menarik dengan hastag #petratruss

Facebook Comments